Bangkit

Ini sebuah pendapat, sebelum aku memasuki lapo dan larut dalam makan siang, tanpa suara:

Blunder itu menjadi bola salju, besar dan mematikan. Proses bertahun-tahun kandas dalam tindakan sejenak, yang dilakukan tanpa pikir panjang.

Provinsi Tapanuli adalah sebuah usulan dan tentu saja harapan. Sah-sah saja ada yang pro dan ada yang kontra. Tapi saat itu disampaikan dengan bahasa kepalan tangan lalu berakhir pada sebuah tragedi, maka itu seperti menepuk air di pendulang terpercik muka sendiri.

Bila yang mati itu adalah seorang demonstran, barangkali eksesnya takkan separah ini. Tapi karena yang tewas adalah seorang ketua, catat, ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang terhormat, maka ceritanya menjadi lain.

Maka, rasanya sulit membayangkan usulan Provinsi Tapanuli yang besar itu terwujud, bila tak mau menyebut kata mustahil. Aziz Angkat menjadi dalil yang sulit dibantah. Aziz Angkat menjadi peluru, yang takkan bisa dihindarkan, yang akan menembus jantung semua orang yang mendukung provinsi itu.

Bila yang tewas itu Chandra Panggabean, maka ia akan menjadi pahlawan, simbol perjuangan. Tapi kematian Aziz Angkat adalah simbol kegamangan, ketakutan, dan keputusasaan.

Apa lagi yang bisa dilakukan oleh para pendukung Provinsi Tapanuli? Tepekur. Berdiam diri dan merenung. Karena pada akhirnya kisah Aziz Angkat menjadi simbol pembenaran, bahwa suku kita ini tak bisa menyelesaikan persoalan dengan pikiran jernih, kata-kata lembut namun pintar. Selalu dengan bahasa preman, seperti di terminal-terminal itu.

Saat semua sudah seperti ini, kemana para politisi yang katanya mendukung Protap? Kemana mereka para petinggi yang katanya punya pengaruh dan kekuatan? Semua tiarap. Pengecut!

Saya berpendapat, sudah tibalah masanya masyarakat Tapanuli terutama Taput membangun dirinya sendiri dengan kekuatan dan potensi dirinya sendiri. Taput punya Danau Toba yang besar potensinya namun tak digarap dengan maksimal. Kaum lain hanya punya tanah dan pengaruh serta nepotisme mengakar, yang sudah tidak bisa kita apa-apain lagi dalam waktu singkat.

Taput punya tanah yang subur yang pertaniannya tak digarap dengan profesional dan semangat menjadikannya komoditas nomor satu, paling tidak di Indonesia. Apakah dari tanah subur dan danau yang luas tak bisa menciptakan Tapanuli yang maju dan bisa menepuk dada sendiri, tanpa bantuan provinsi SUMUT yang egois dan hanya membangun kaumnya sendiri saja itu? Bisa. Jawabannya bisa.

Tebing Jauh, 13 Februari

Leave a Comment

siput