Dikhianati

Rasa dikhianati itu membuncah. Kecewa tiada akhir. Begitulah bila pemerintah, negara, dan lembaga yang ditentukan untuk mengelola Pemilihan Umum di negeri ini merampas hak asasiku untuk memilih.

Dana besar sudah digelontorkan. Orang-orang pintar dipilih, dengan harapan takkan seperti pendahulu mereka yang bergelimang korupsi. Tapi apa lacur? Pelaksanaan pemilihan umum tak otomatis lebih baik.

Amburadul. Kacau balau.

Salah satu contoh saja, yaitu pendataan pemilih yang kemudian masuk Daftar Pemilih Sementara dan Daftar Pemilih Tetap. Ada yang menghitung sekitar 30 juta pemilih Indonesia tak “dimasukkan” ke dalam DPT ini.

Termasuk aku dan delapan anggota keluarga besarku di Depok. Bayangkan, empat Kartu keluarga, tak satupun mendapat undangan. Malah, lebih parahnya, di kecamatan Pancoran Mas, kabarnya ada 2 Rukun Tetangga yang tak mendapat undangan memilih. Luar biasa!

Pemerintah dan KPU telah meminta pemilih agar proaktif dalam memeriksa keberadaannya dalam DPT. Tapi waktu yang diberikan sempit benar. Hanya ada maksimal satu sampai satu setengah hari bagi pemilih untuk memeriksa DPT.

Jelas saja ada begitu banyak orang yang kerepotan. Apalagi banyak juga yang pasti kesulitan mengurus sendiri terkendala oleh kesibukan pekerjaan. Pemerintah hanya menyediakan libur satu hari, yakni pada hari pencontrengan.

Kami ini adalah golput yang digolputkan oleh sistem nan amburadul. Bila ditambah mereka yang memilih menjadi golongan putih alias golput, maka ada sekitar 40 persen warga atau pemilih di negeri ini yang tak menggunakan hak pilihnya.

Bila sudah begitu, dengan adanya 40 persen pemilih yang golput dan “digolputkan”, legitimate-kah hasil pemilihan umum 2009 ini? Rasanya kok tidak ya?

Bayangkan, seandainya pun Partai Demokrat menang misalnya, maka kemenangan 20 persen itu dihitung dari 60 persen pemilih yang berpartisipasi dalam pemilu.

Taruhlah begini. Bila jumlah pemilih di negeri ini ada sekitar 170 juta orang, maka 60 persennya adalah 102 juta orang. Nah, 20 persen dari 102 juta orang adalah 20,4 juta.

Kalau dibandingkan dengan 170 juta pemilih, maka yang memilih partai Demokrat, yang katanya memenangkan pemilu itu, hanyalah 12 persen saja. Maka, legitimate-kah, kemenangan 12 persen itu?

Sayangnya, hitung-hitungan dan “rasa” matematis ini tak berpengaruh apapun dalam sistem politik di negeri ini. Barangkali di benak para pemimpin itu, mau berapapun angkanya, menang ya menang. Titik!

Ongkos besar pemilu itu pada akhirnya hanya dihabiskan untuk hitung-hitungan politis, hitung-hitungan koalisi, dan bagi-bagi kursi serta kekuasaan di lembaga legislatif.

Kalau sudah begini, jangan mengharapkan partai politik dan pemimpin yang betul-betul memperhatikan masyarakat. Rakyat negeri ini hanya “komoditas”.

Kini, di depan mata masih ada satu “pesta” lagi, pemilihan presiden bulan Juni. Sekali lagi KPU dan pemerintah diuji. Bisakah pemilihan ini berjalan lancar dan masalah DPT, pencontrengan, serta penghitungan suara bisa diminimalisasi?

Bila masalah terulang, maka lengkaplah sudah penderitaan rakyat negeri ini. Dipimpin oleh orang-orang yang tak dipilihnya. Meski aku yakin, pada akhirnya banyak orang hanya akan mengelus dada. Mencoba bersabar.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Bangkit

Ini sebuah pendapat, sebelum aku memasuki lapo dan larut dalam makan siang, tanpa suara:

Blunder itu menjadi bola salju, besar dan mematikan. Proses bertahun-tahun kandas dalam tindakan sejenak, yang dilakukan tanpa pikir panjang.

Provinsi Tapanuli adalah sebuah usulan dan tentu saja harapan. Sah-sah saja ada yang pro dan ada yang kontra. Tapi saat itu disampaikan dengan bahasa kepalan tangan lalu berakhir pada sebuah tragedi, maka itu seperti menepuk air di pendulang terpercik muka sendiri.

Bila yang mati itu adalah seorang demonstran, barangkali eksesnya takkan separah ini. Tapi karena yang tewas adalah seorang ketua, catat, ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang terhormat, maka ceritanya menjadi lain.

Maka, rasanya sulit membayangkan usulan Provinsi Tapanuli yang besar itu terwujud, bila tak mau menyebut kata mustahil. Aziz Angkat menjadi dalil yang sulit dibantah. Aziz Angkat menjadi peluru, yang takkan bisa dihindarkan, yang akan menembus jantung semua orang yang mendukung provinsi itu.

Bila yang tewas itu Chandra Panggabean, maka ia akan menjadi pahlawan, simbol perjuangan. Tapi kematian Aziz Angkat adalah simbol kegamangan, ketakutan, dan keputusasaan.

Apa lagi yang bisa dilakukan oleh para pendukung Provinsi Tapanuli? Tepekur. Berdiam diri dan merenung. Karena pada akhirnya kisah Aziz Angkat menjadi simbol pembenaran, bahwa suku kita ini tak bisa menyelesaikan persoalan dengan pikiran jernih, kata-kata lembut namun pintar. Selalu dengan bahasa preman, seperti di terminal-terminal itu.

Saat semua sudah seperti ini, kemana para politisi yang katanya mendukung Protap? Kemana mereka para petinggi yang katanya punya pengaruh dan kekuatan? Semua tiarap. Pengecut!

Saya berpendapat, sudah tibalah masanya masyarakat Tapanuli terutama Taput membangun dirinya sendiri dengan kekuatan dan potensi dirinya sendiri. Taput punya Danau Toba yang besar potensinya namun tak digarap dengan maksimal. Kaum lain hanya punya tanah dan pengaruh serta nepotisme mengakar, yang sudah tidak bisa kita apa-apain lagi dalam waktu singkat.

Taput punya tanah yang subur yang pertaniannya tak digarap dengan profesional dan semangat menjadikannya komoditas nomor satu, paling tidak di Indonesia. Apakah dari tanah subur dan danau yang luas tak bisa menciptakan Tapanuli yang maju dan bisa menepuk dada sendiri, tanpa bantuan provinsi SUMUT yang egois dan hanya membangun kaumnya sendiri saja itu? Bisa. Jawabannya bisa.

Tebing Jauh, 13 Februari

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment

Protap

Lapo itu senyap. Ada beberapa orang duduk di sana, tapi nyaris tanpa bersuara. Bila pun ada yang meminta tambah sangsang atau panggang, suaranya lebih dekat berbisik daripada berseru.

Siang itu, mata para penyambang lapo lekat memandang layar televisi 21 inci yang tergantung di atas lemari kaca tempat Ompung Situmorang menaruh penganannya. Di sana, di tayangan televisi itu, siaran berita berulangkali memutar adegan demonstrasi maut di gedung DPRD Medan.

Saat tayangan berganti, hampir serentak ada helaan nafas yang menghentak. Rasa nelangsa menyeruak, terasa sangat kental di ruangan yang tak terlalu luas namun sejuk lantaran di luarnya dinaungi beberapa pohon tanjung dan nangka.

“Bagaimana menurutmu kita harus menyikapi kejadian itu?” kata Ompung Situmorang kepadaku.

Aku pun menghela nafas. Untuk kali pertama, aku tak bisa berkata-kata. Lama aku terdiam. Pun Ompung dan mereka yang menantikan jawabku.

Akhirnya aku bicara. “Aku tak tahu, kalau yang ompung maksud soal pemekaran itu. Tapi kalau soal demonstrasinya, jelas aku mengutuk aksi kekerasan semacam itu, Pung.”

Ompung dan yang lain mengangguk. Tapi ada yang tiba-tiba berseru. “Tapi kok sepertinya orang-orang itu sentimen sama kita, kok usulan provinsi Tapanuli Tenggara, yang isinya dari Selatan itu, langsung cepat dibahasnya. Sedangkan usulan Protap digantung-gantung begitu?” katanya tanpa tendeng aling-aling.

Dia menyambung. “Sekarang jadinya seperti blunder kan? Kita lihat saja, sampai-sampai Koran SIB pun diminta harus ditutup, kok saya merasa serangan menjadi sangat personal, langsung menusuk ke jantung kita?” kata lelaki itu.

“Memang begitulah jadinya kalau apa-apa mesti disampaikan dengan kekerasan, bang,” kataku kepadanya. “Sedari dulu aku sudah membenci tindakan-tindakan semacam itu, siapapun pelakunya.”

“Kekerasan,” kataku menyambung, “Tak akan pernah bisa menjadi solusi apapun.” “Memang rasanya ia efektif di luar kulit, tapi di dalamnya ia adalah cara paling rapuh dan berbahaya.”

Ompung Situmorang bicara lagi. “Lalu sekarang, kira-kira bagaimana sikap kita, selaku orang Batak di perantauan?”

“Menurutku, kita tak perlulah ikut-ikutan panas. Para pemerintah di kabupaten atau Kotamadya yang tadinya ingin bergabung bersama dalam Protap, sebaiknya berpikir ulanglah. Rencana boleh tetap digulirkan, meski menurutku, sudah sangat berat peluangnya. Kalaupun harus digelindingkan terus soal Protap ini, sebaiknya strateginya harus didesain ulang. Yang paling penting, hindari cara-cara kekerasan, yang malah membuat kita dalam posisi paling lemah saat ini. Itu sudah hukum alam.”

“Lalu soal pemekaran itu? Ah kok aku melihatnya sebagai sebuah rencana pragmatis, terburu-buru, emosional, dan sedikit ambisius? Memang sih sejak dulu perhatian Medan ke Tapanuli memang minim. Tapi itu memang bisa dimengerti oleh karena banyak sentimen-sentimen yang semestinya tak perlu.”

Aku menyambung, “Tapi kalau kita berlama-lama larut dan emosional dalam sentimen-sentimen berbau agama dan suku itu, ya tidak akan pernah selesai. Sekarang kan zamannya otonomi daerah, ya menurutku pemerintah daerah di Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan mereka yang tadinya bergabung di kubu Protap, punya potensi untuk membangun dirinya sendiri, mandiri. Tidak udah terlalu tergantung pada provinsi yang dikuasai orang-orang sentimentil begitu. Kalau daerah kita maju, yang merasakan kan kita sendiri, bukan orang-orang provinsi yang egois dan mau menang sendiri itu!”

“Lho kok jadi kau yang emosional?” kata Ompung seketika. Aku terkesima. Sadar.

Lalu kami semua sama-sama tertawa.. Suasana pun melarut, cair, sehingga daun singkong disantan dan sangsang serta sambal pedas itu pun terasa semakin nikmat.

Pandangan sebagian yang sedang makan itu kembali larut ke tayangan televisi. Ternyata masih dalam suasana kekerasan. Tapi bukan adegan kekerasan di DPRD Sumut, melainkan sebuah tayangan sinetron.

Ah.. kekerasan mengambil bentuknya yang lain, samar-samar terselubung, namun jauh lebih meresap di jiwa. Seketika kekhawatiranku memuncak. Tapi rasanya kok tak berdaya. Ingin mematikan televisi, tapi tak enak dengan puluhan pasang mata yang tampaknya sudah lupa pada Protap dan Aziz Angkat.

Tebing jauh, 9 Februari 2009

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Trowulan

“Macammananya tanggapanmu kawan soal Pusat Informasi Majapahit di Trowulan itu?” seseorang menyergahku. Padahal aku baru saja duduk di lapo Ompung Situmorang, panggang dan sangsang pun belum kupesan.

Aku tercenung. Di lapo ini memang bukan rahasia lagi, meski wartawan, aku adalah lulusan Arkeologi dari salah satu universitas negeri di Indonesia. “Kau ini wartawan yang ngarkeo atau arkeolog yang ngewartawan sih?” kata Ompung suatu ketika. Ompung Situmorang ini memang pernah lama tinggal di Solo, Jawa Tengah. Jadi istilah-istilah Jawa masih lekat padanya.

Aku menghela nafas, pada akhirnya. Trowulan. Sebuah situs arkeologi raksasa yang entah sudah berapa kali kusambangi pada masa kuliahku. Dari sekadar pengunjung bersama teman-teman seangkatan, sampai melakukan ekskavasi alias penggalian di sebelah Museum Trowulan, dan menjadi ketua kelompok penggalian setahun kemudian.

Panas. Gersang. Riuh. Tanah memerah. Begitulah beberapa kesan tentang Trowulan, yang adalah bekas Kota Majapahit sebelum runtuh dan tertimbun tanah.

Pecahan keramik dan piring Cina adalah pemandangan biasa. Belum lagi temuan kepeng, alias duit logam beraksara Cina yang berlubang di tengahnya. Pada masa kuliah, aku pernah menjadikan satu keping sebagai liontin kalung. Slenge’an masa remaja, aku menyebutnya.

Trowulan akhir-akhir ini mengemuka ke publik setelah pembangunan Pusat Informasi Majapahit tercium. Proyek itu menggerus peninggalan arkeologis di bawah tanah, yang sebetulnya masih terbilang sangat besar potensinya.

Ku pandang beberapa pasang mata di lapo itu. “Sebetulnya tu hamu saluhutna, pengrusakan situs Trowulan bukanlah kali pertama,” kataku kemudian. Beberapa pasang mata ada yang terbelalak.

Kulanjutkan. “Sejak masyarakat di sana tahu di bawahnya tersimpan potensi cagar budaya dengan peninggalan arkeologi yang bernilai duit bagi kolektor, pengrusakan sudah terjadi.” Kuteruskan lagi. “Belum lagi masyarakat yang menggali tanah, menemukan bata, lalu membangun rumahnya dari bata tersebut. Jadi, sebetulnya situs Trowulan sudah rusak parah sejak lama.”

“Lho, jadi selama ini pemerintah tak mengurusnya?” seseorang bertanya.

Aku mengangguk. “Sebetulnya bukannya tidak, tapi kurang mengurusnya. Entah sudah berapa banyak keluhan dilayangkan para arkeolog, tapi pemerintah tak bisa berbuat banyak. Ada banyak persoalannya. Tapi khusus masalah PIM ini, memang ujug-ujug ingin mendirikan proyek fenomenal, tapi kurang uji kelayakan terhadap potensi merusak cagar budayanya, ini yang mengherankan,” ujarku.

“Lantas bagaimana sebaiknya?” yang lain menyahut.

“Sebaiknya pemerintah duduk satu meja dengan komunitas arkeologi, tak hanya dengan balai pelestarian di sana, agar duduk soalnya semakin jernih. Saya kira niat mendirikan PIM sudah baik, tapi caranya yang tak pas. Begitu.”

Mereka pun mengangguk.

Tersisa rasa getir di hati. Trowulan sebetulnya bukanlah wajah bopeng tunggal di negeri ini. Ada begitu banyak kasus lain di seantero tanah air. Situs arkeologis tergerus pembangunan sampai hancur dan lenyap. Tinggallah cerita-cerita di buku sejarah, malah kesannya jadi seperti dongeng saja. Menyedihkan.

Tebing Jauh

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , | Leave a comment

Lapo

“Lae, lapotuak ditutup,” seseorang menyergahku saat baru saja duduk di sudut kesukaanku di lapo Ompung Situmorang itu. Ada seraut wajah khawatir pada orang itu.

“Lapotuak apanya maksudmu, Lae?” aku balik bertanya, meski sebetulnya aku bisa menduga maksud lelaki itu.

“Itu lho, situs blog yang katanya memuat komik tentang Nabi Muhammad yang tak senonoh,” katanya lagi, menjelaskan. Ia tak menyebutkan alamat situs itu.

Aku mengangguk. Tebakanku betul. “Memang, Lae. Sudah ditutup,” kataku lagi.

“Menurut Lae, apa sebaiknya memang begitu? Bukankah itu juga namanya demokrasi?” Dia memancing.

Aku tersengat. “Bah, demokrasi tidak macam begitu, kawan,” kataku. “Meskipun aku bukan Islam, tapi cara-cara seperti itu rasanya tak pas. Bisa-bisa malah jadi bumerang, tak hanya bagi komunitas kita yang sering nongkrong di lapo ini, tapi juga bisa berimbas pada suku kita, juga komunitas blog, yang tak tahu apa-apa.”

Lelaki itu masih diam, menunggu aku bicara lebih lanjut. Juga beberapa pasang mata yang siang itu sedang menikmati makan siang di lapo Ompung yang baik hati itu.

“Demokrasi bukan berarti bebas berpendapat dan bicara seenak udel, kawan. Ada batas-batas norma, kita menyebutnya SARA, yang jadi semacam “hakim” di ranah maya seperti blog itu. Soalnya, itu adalah isu sensitif yang sangat mudah membuat orang lain tersinggung.”

Tiba-tiba lelaki itu menyela. “Tapi bukankah Tuhan Yesus juga sering diperlakukan begitu, Lae?”

Aku tercenung sejenak. Pikiran lelaki itu barangkali ada benarnya. Tapi dalam hal protesnya pada perlakuan yang juga banyak dilakukan orang terhadap Yesus. Aku pernah mendapati karikatur di tembok rumah di kawasan Condet, Jakarta Timur, yang menulis begini: “Yesus F**K”. Ada bara yang tiba-tiba menyeruap di dada, tanganku terkepal.

“Bukankah sudah cukup banyak perlakuan seperti itu yang kita alami, Lae? Pembakaran gereja, pelarangan orang beribadah, bahkan penganiayaan, apa lagi yang masih kurang?” Lelaki itu nyerocos. Ada nada kemarahan pada suara baritonnya.

Aku menghela nafas dan menariknya pelan-pelan, berkali-kali, sampai bara di dada tersamar lalu hilang. Setelah itu aku bicara: “Aku tidak bisa menjawab dari pihak mereka ya Lae. Kalau memang mereka tersinggung lalu naik darah lalu marah-marah, aku pikir itu adalah hal yang sudah sewajarnyalah.” kataku.

Lelaki itu diam. Menunggu.

Aku melanjutkan. “Akan halnya kita, Lae. Adalah berbeda yang diajarkan Tuhan Yesus dalam menyikapi hal seperti itu. Lae kan tahu sendiri, yang dialami Yesus pada masa hidupnya bukan cuma karikatur, tapi juga disiksa lalu dibunuh Lae. Kalau Dia marah, kalau Dia membalas, itu bisa saja. Dia kan Tuhan.” Aku menarik nafas.

Lelaki itu masih diam. Menunggu.

“Tapi Dia tidak membalas, Lae. Karena Dia mau menunjukkan apa artinya perdamaian dan Cinta sejati. Kalau Yesus pun tak mau membalas, mengapa pula kita ikut ribut-ribut membalas? Yesus tak mau dibela, mengapa pula kita—yang hanya manusia, ciptaan yang serba terbatas—merasa sanggup membela Tuhan yang adalah Maha Berkuasa?”

Aneh, lelaki itu tetap diam. Kali ini dia menunduk.

Aku kembali berbicara. “Itulah kenapa kita tak perlu bersikap sama seperti mereka, Lae. Dan tak perlu pula kita membalas dengan membikin kekisruhan seperti yang dibikin pembuat blog di WordPress itu. Aku pikir, tugas kita sudah jelas Lae. Itu sudah ada di dalam Alkitab. Sekarang bagaimana kita hidup dengan tugas itu secara benar. Soal urusan lain, apalagi urusan orang yang menjelek-jelekkan Dia, itu urusan Tuhan lah Lae. Dia paling tahu apa ganjaran yang tepat bagi orang-orang yang menghina Dia.”

“Lalu, kita diam saja ya Lae?” Lelaki itu akhinya bangkit dari diamnya.

Aku menggeleng, cepat. “Nggak Lae, nggak diam. Kita melakukan tugas dan panggilan kita, kita dipanggil untuk mencintai siapapun, termasuk musuh kita, itu merupakan pekerjaan kita, Lae. Jadi kita tidak diam.”

“Jadi, itulah bedanya kita dengan mereka, ya Lae.”

“Ya!” Aku mengangguk, yakin. Juga sekian pasang mata di lapo itu.

Tebing Jauh, 24 November 2008

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment

BBM

Suatu siang nan terik, aku melangkahkan kaki ke lapo Ompung Situmorang. Tak jauh dari rumah. Hanya sepelemparan batu.

Dari teras rumahku sudah terasa betul ada sesuatu yang berbeda di lapo itu. Keramaian yang tandas. Suara tertawa keras dan sorak-sorai terdengar gelegar betul.

Kusibak tirai pintu masuk lapo. Hawa pengap menyeruak. Ada begitu banyak orang di sana. Wajah-wajah yang semringah, memancing tanda tanya.

“Ada apa?” aku bertanya pada seseorang. Lelaki berperawakan sedang yang sedang asyik menikmati saksang pinahan yang masih mengepulkan asap. Nikmat sekali.

“Harga bensin turun?” katanya.

Ohh. Aku baru mengerti. Sejak kemarin sebetulnya aku sudah tahu berita itu. Teman yang bertugas di Istana Presiden sudah mengabarinya. Aku sudah menduga, akan ada banyak orang yang antusias. Tapi tak pernah kukira sambutannya sedemikian di lapo Ompung Situmorang itu.

Harga bahan bakar adalah sorotan banyak orang sejak lama. Di akar rumput, harga ini tuas pemicu sebuah senjata api. Begitu ia ditarik, maka meletuslah gejolak serta keresahan di masyarakat. Tak sampai di situ, ibarat domino, berentet pula kenaikan harga komoditas. Apa saja, dari bahan pokok sampai kebutuhan tersier.

Kenaikan bahan bakar biasanya dipicu kenaikan harga minyak mentah dunia. Harga premium mencapai Rp 6000 dan solar Rp 5500 dulu dipicu kenaikan harga minyak mentah yang menembus US$ 200 per barel. Kenaikan harga itu memang membuat pemerintah menanggung ongkos subsidi yang besar pada bahan bakar bersubsidi itu.

Tapi kini kondisi sudah berubah. Meski resesi sedang melanda dunia, harga minyak mentah ternyata turun mendekati US$ 60 per barel. Jelas saja kini ada banyak pihak yang berteriak: “Turunkan harga BBM!”.

Pemerintah pun merealisasinya pekan lalu. Harga premium–sayangnya hanya premium saja–turun menjadi Rp 5500 per liter. Ini berlaku mulai 1 Desember 2008. Padahal, menurut sejumlah kalangan, harga itu sebetulnya masih bisa ditekan sampai setidaknya Rp 5000 per liter.

Selesaikah persoalan rakyat bawah yang dihimpit tingginya harga kebutuhan sehari-hari? Apalagi mata uang rupiah juga terus melemah sehingga harga sejumlah kebutuhan yang terkait impor juga terkoreksi. Tidak. Ibarat berada di padang pasir, penurunan harga premium hanya seperti sebotol air mineral 100 mililiter. tak bisa memuaskan dahaga.

Jadi, boleh jadi antusiasme di Lapo Ompung Situmorang hanya antusiasme sesaat saja. Mereka belum mengerti bahwa penurunan itu tak terlalu berdampak.

“Ngapain kalian mesti bersorak-sorak, seakan-akan keputusan itu hebat betul,” aku akhirnya angkat bicara. Itu setelah seporsi nasi dan hidangan pinahan sudah tandas dari mejaku. Sedikit aku bersendawa.

“Lho kok? Jangan begitulah kau,” seseorang nyelutuk dari samping kananku. Ternyata Lae Simamora, tetanggaku. “Mestinya kabar ini disambut baik, lumayan kan daripada tidak turun sama sekali?”

Aku mengangguk. “Memang lae, lumayan. Tapi itu cuma setitik susu di nila sebelanga. Aku setuju dengan pandangan sejumlah politisi bahwa itu sarat muatan politiknya. Kalau pemerintah memang serius mestinya turunnya bisa lebih besar,” kataku. “Coba kalian lihat semua, apakah penurunan harga itu berdampak langsung pada harga-harga yang pernah melonjak waktu harga bahan bakar melonjak dulu? Tidak!” aku nyaris berteriak.

Aku melanjutkan. “Lae Saragi yang narik angkot D01 jurusan Depok 1, apakah lae akan menurunkan ongkos?” aku menuding kepada pemilik tubuh tambun di seberang mejaku.

Lelaki itu menggeleng, berat. “Sulit kawan, turunnya cuma segitu, padahal harga kebutuhan naiknya waktu itu tinggi sekali, jadi mana bisa kami menurunkan ongkos,” katanya.

Aku berkata lagi: “Lalu Ompung Situmorang, apakah Ompung akan menurunkan harga makanan di sini?”

Lelaki hampir renta itu pun menggeleng. “tidak bisa itu. Harga bahan pokok dan daging tidak ikut turun mana bisa harga makanan di sini kuturunkan.”

Semua yang ada di ruangan pengap itu saling memandang. Kemeriahan sontak lenyap tak berbekas. Aku menyesal juga membuat suasana jadi seperti itu.

“Ah, paling tidak biaya bensin motor atau mobil kita semua sudah lumayan terkoreksilah, lebihannya kan nanti bisa dibelikan macam-macam” kataku membesarkan hati.

Semua mengangguk.

Tebing jauh, 10 November 2008

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , | 2 Comments

Eksekusi

“Akhirnya sudah dieksekusi?” Ompung Situmorang menyambutku dari balik meja kasir Lapo-nya.

Aku mengangguk sekadarnya. Sebetulnya rasa haus dan sedikit lapar lebih menarik hatiku siang ini. Mama si Butet pergi ke rumah saudaranya, jadi ia tak sempat memasak. Alhasil, aku terpaksa makan di luar sebelum bertolak ke kantor, libur-libur begini. Apa boleh buat.

“Betul itu jam 00.15 tadi pagi?” lagi-lagi Ompung yang usianya kutaksir sudah 70-an tahun itu bertanya. Rupanya jawaban singkatku tak memuaskan hatinya. Maklum, biasanya memang aku yang cerewet.

Pekerjaanku sebagai wartawan membuat membuatku sangat dekat dengan sumber informasi. Itulah yang membuat banyak orang di Lapo itu betah ngobrol denganku dan kehadiranku selalu ditunggu-tunggu.

Aku ibarat sumur yang mengeluarkan air tak habis-habis. Tapi aku senang-senang saja, sebab ngobrol dengan mereka kadang-kadang memberikan umpan balik yang tak terduga.

Sepiring nasi putih mengepulkan asap dan wangi yang membuat cacing-cacing perutku memberontak tak berapa lama sudah terhidang di meja. Begitu juga seporsi sayur daun singkok tumbuk, sambal pedas, dan seporsi pinahan panggang. Hm.. tak sabar kusantap, pelan tapi pasti.

Tak perlu buru-buru mengunyah, sebab katanya tak bagus untuk pencernaan. Kuresapi setiap rasanya dengan nikmat. Meski, rasanya, masih kalah enak dengan buatan Mama si Butet.

Setelah makanku tuntas, aku baru menyadari bahwa Ompung Situmorang masih menunggu dengan sorot mata mengharapkan jawaban. Akhirnya, kuputuskan untuk mengemukakan sedikit pandanganku. “Iya, Ompung. Sudah dieksekusi. Akhirnya.”

“Tapi kenapa banyak orang yang membela mereka?

“Aku tak tahu, Ompung. Barangkali mereka memang punya pandangan yang serupa soal jihad dan tentang mati di jalan Allah. Kematian para teroris itu dipandang sebagai syuhada dan mereka adalah pahlawan di jalan Tuhan mereka.”

“Oh ya?” Si Ompung mengernyitkan dahi. Padangan tentang makna jihad itu memang tak masuk di akalnya. “Tapi kan mereka membunuh banyak orang?”

“Bagi mereka, soal jumlah dan siapa yang mati tak penting. Yang terpenting adalah sasaran tembaknya sudah dicapai. Tujuan mereka akan menghancurkan semua yang berbau-bau Amerika, Australia, kafir, dan semacamnya.” “Bila itu tercapai, meski banyak makan korban dari kaum mereka juga, dianggaplah sebagai risiko perjuangan.”

“Alamak! Pandangan macam apa itu?”

Aku menggeleng. “Terus terang, aku pun tak memahaminya. Bila melihat antusiasme orang terhadap para teroris itu, rasa-rasanya kok aku khawatir rasa aman itu masih jauh dari pandangan.”

Si Ompung mengangguk. “Betul itu.”

“Menurutku, alangkah baiknya bila kita tak henti-hentinya menyiarkan perdamaian. Perdamaian serta sikap memandang manusia lain sebagai pribadi yang berharga, apapun agamanya. Kupikir itu bisa menekan radikalisme agama.“

Tebing Jauh, 9 November 2008

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , | Leave a comment

Obama oh Obama

“Lae, yang macammana-nya pemilihan presiden di kampung Ompung Sam itu,” lamat-lamat kudengar suara pemuda bertubuh tirus itu, dari balik meja lapo yang reot. Waktu kulirik, ia sedang menyeruput kopi dari cangkir kaleng di atas meja. “Ah, aku pun tak begitu memahaminya lae,” kataku. “Tapi yang kutahu, inilah sejarah baru dalam perpolitikan Amerika Serikat. Seorang Presiden berkulit hitam pertama.”Pemuda itu mengangguk-angguk. Tapi rona wajahnya tampak masih belum puas. “Ah yang benarlah lae, sudah betul berita itu?” katanya lagi. Aku mengangguk pasti. “Kalo lae tak sempat menonton televisi hari ini, yang sedari pagi semua silih berganti memberitakan kemenangan Barrack Obama atas John McCain, lae bisa membaca koran sore. Suara Pembaruan atau Sinar Harapan, headlinenya sama, Lae,” ujarku. “Lho berarti fenomena Bradley yang didengung-dengungkan orang itu tak terbukti ya?” katanya tiba-tiba. Aku terkejut setengah mati. Alamak, pemuda tirus berbaju sekadarnya itu ternyata dalam juga pengetahuannya. Aku terkesima sejenak. Buru-buru aku mengangguk. “Betul itu Lae,” kataku. Sejenak pikiranku mengembara pada kasus tahun 1982. Saat itu Walikota Los Angeles, Tom Bradley, mencalonkan diri sebagai Gubernur California.  Sebagaimana Obama, berbagai jajak pendapat memenangkan kandidat berkulit hitam itu. Tapi apa lacur, jagoan Partai Demokrat itu kalah atas rivalnya dari Partai Republik, George Deukmejian. Banyak kalangan mengkhawatirkan fenomena itu menimpa Obama, yang perolehan suaranya pada berbagai poling selalu mengungguli McCain. Jurus kampanye damai dan lebih mengedepankan program rupanya lebih memikat publik ketimbang kampanye menyerang ala McCain dan pasangannya Sarah Palin. “Jadi begitulah Lae, Obama ternyata tak mengulang kesialan Bradley,” kataku sekenanya. “Kesialan?” katanya lagi. Alisnya terangkat. Lelaki itu lalu menggeleng. “Bukan Lae, bukan kesialan, tapi masyarakat Amerika Serikat mungkin sudah lebih dewasa.”Aku mengangguk. Lelaki—yang sungguh mati belum kutanyakan namanya itu—seribu persen benar. “Mudah-mudahan politik luar negeri Amerika juga ikut berubah seiring berubahnya wajah politik Negara itu ya, Lae,” kataku. Tapi lelaki itu sudah meninggalkan mejanya.“Minumanmu pun sudah dibayarnya,” kata Ompung Sitorus, sang pemilik warung. Ah, berterima kasih pun aku tak sempat. 

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , | Leave a comment

Di Balik Layar

“Kenapa tak kau tulis saja namamu di bawah naskah itu?” Lelaki itu menghardikku. Wajahnya memang tak merah padam alias marah. Tapi kata-katanya ketus betul.

Makanan yang terhidang di meja kayu yang warnanya semakin pudar itu jadi terasa hambar. Sesendok, dua sendok, seperti setumpuk duri pohon palem di tenggorokanku. Hampir saja aku tersedak.

“Aku ingin di belakang layar saja, Lae!” aku menukas. Mencoba mengimbangi nada suaranya dengan intonasi yang meninggi. Bila ia mengerti, pasti dia tahu betapa kesalnya hatiku.

“Ah kau ada-ada saja,” lelaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Terserah akulah mau bagaimana, tapi yang pasti, lebih asyik menjadi seseorang di belakang layar. Aku bisa menulis sepuas hatiku, menggambar sepuas hatiku, nyerocos seenak udelku, tanpa seorang pun perlu tahu siapa aku.” Kata-kataku berhamburan.

Lagi. “Lagipula, pikiran ku bisa seperti keran yang bagus, mengalirkan air lancar-car. Tak seperti keran di rumahku, yang tersendat-sendat, apalagi kalau aku lupa memancing di mesin penyedotnya.”

“Ah terserah kaulah.” Dia akhirnya melunak. Nada suaranya memelas, pendek dan sepertinya ingin mengakhiri pembicaraan di tempat sepi itu.

Akhirnya, nasi dan rendang daging kerbau itu terasa nikmat melewati mulutku. Aromanya membikin lapar yang tertunda, jadi semakin terasa. Pikiranku tiba-tiba plong, terbuka lebar. Tak sabar ingin segera memencet tuts komputer.

Tebing jauh, 19 Oktober.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Selamat Datang di dagdigdug

Selamat Datang di dagdigdug.com. Ini posting pertamamu , Ekspresikan perasaanmu. Ngebloglah sekarang juga !

Posted in Uncategorized | 1 Comment